ADENOMYOSIS BAG.2

Kelanjutan cerita Adenomyosisku tahun 2024, yang artinya sudah dua tahun berlalu dari hari itu. 
Setelah vonis dari dokter Juli 2024 itu, susana hatiku isinya melow, sedih, kalau di bahas lagi hanya bisa menangis. Tapi hari-hariku tetap berjalan seperti biasa, harus berangkat ke sekolah (tempatku bekerja), menata hati yang hancur tapi tetap harus tersenyum dan seolah tegar tak terjadi apa-apa meski semua tumpah ketika ada yang bertanya tentang itu. Selama rentang waktu yang ku jalani itu sambil berselancar di media sosial, cari info dan cari alternatif lain, apakah benar solusinya hanya yang di katakan dokter itu. Di pencarian google, youtube, instagram, ternyata kejadian itu tidak hanya aku sendiri yang mengalami, banyak yang mengalami hal serupa tapi posisinya sudah berumah tangga, hanya segelintir yang masih sendiri. Dari hasil selancarku itu, bahkan tanya jawab dokter yang aku tonton di youtube memang jawaban nya adalah "jika mau sembuh, berarti ya jalannya operasi angkat rahim". Pikirin dan hatiku semakin kacau, sambil terus mencoba resep tradisional dengan jus kurma+kunyit+air kelapa, bahkan minuman kurma herbal, berharap bisa sembuh. Sampai suatu saat Alloh kasih secercah harapan lewat cerita salah satu pejuang adenomyosis yang bisa di obati tanpa operasi angkat rahim. Dari situ aku mulai bersemangat kembali. Aku tonton dan ikuti akun youtubenya, baca komentar-komentarnya, ternyata dia juga awalnya di beritahu oleh salah satu dokter hanya bisa dengan jalan operasi angkat rahim, sampai dia cerita mencoba bertemu dengan dokter-dokter spesialis di RS lain, dan baru bertemu dengan dokter ketiga yang memberi alternatif lain. Dan setelah itu sekarang dia di tahap sedang pejuang garis dua. Aku yang memang masih sendiri lega ada yang sakitnya sama denganku tapi bisa survive. Aku yang memang belum berjuang mungkin, belum mencoba ke opsi dokter lain. Singkat cerita, sampai di bulan November 2024, aku haidh lagi dengan rasa sakit yang bukan hanya 2 hari awal tapi sepanjang haidh, dan akhirnya harus tumbang (belum sampai pingsan, hanya tidak bisa beraktifitas kerja seperti biasa) dan teman di tempat kerja akhirnya berani bertanya dan memaksa untuk mencari opsi ke RS lain. Hari itu juga aku di daftarkan ke RS bertemu dengan dr Obygn-Onk, dokter kandungan rekomendasi temanku yang sudah 2 kali kehamilan sampai melahirkan dengan dokter tersebut. Setelah dapat antrian dan bisa hari itu juga, akhirnya aku di anter 3 orang temanku ke RS tersebut (udah kaya mau apa saja bawa 3 pasukan).

Setelah mendapat izin dari atasan dan bisa pulang lebih awal, kami menuju ke RS tempat dokter tersebut praktek. Ini adalah pengalaman kedua ke Poli Obygn tapi belum menikah, bedanya poli sebelumnya pas jam sepi, poli ini mashaalloh ramai sekali, sudah kaya ngantri BLT😅. Karena RS yang di tuju tidak masuk ke RS faskes kesehatanku aku memang pakai Umum. Sebelumnya aku sudah dapat nomor antrian dari suami temanku jadi ke bagian pendaftaran untuk daftar karena aku memang belum pernah ke RS ini. Setelah dapat kartu pendaftaran dan antrian, akhirnya menuju ke poli. Poli kandungan ya artinya isinya adalah para ibu-ibu hamil diantar suami, ibu-ibu kontrol setelah lahiran dengan suami dan baby nya, serta pasangan suami-istri sedang promil. Lha aku, anak gadis belum menikah dianter oleh pasukan (2 orang teman wanita dan 1 orang teman yang bertindak jadi gocar 😂, jadi kayak 1 pria beristri 3 #canda 😂). Setelah berkas dari pendaftaran masuk ke poli, menunggu dipanggil di petugas (bidan depan poli) pertama untuk daftar ulang (tensi, timbangan, dan keluhan, ditanya HPTH/Hari pertama terakhir haid). Setelah menunggu sekian purnama dari kaya antrian BLT sampai mau tutupan, akhirnya terpanggillah (antrian 2 terakhir ternyata😂). Menunggu dari pkl 14 an, baru di periksa pukul 17.30an lewat. Akhirnya giliran dipanggil. Masuk ke ruangan dengan 2 orang teman wanitaku (yang bapak" ndak ikut masuk, nanti dikira suaminya, padahal dia di luar karena ternyata kita tidak tau bakal sampai semalam ini, istrinya di rumah dengan dua anaknya belum sempat mandi karena karena rewangnya sudah terlanjur pulang). Pertama kali masuk, suasana kekeluargaan di tunjukkan oleh dokter dan bidan yang bertugas, jadi tidak berasa di sidang di ruangan tersebut. Dokternya super humble. Malah bercanda karena kaya bawa pasukan apa ini? Keluhannya apa? Setelah itu akhirnya aku di periksa, berbaringlah diriku di bed periksa, dan di USG, sambil USG dokter sambil menjelaskan "iya, ini rahimnya memang sudah berukuran 4xlipat ukuran rahim normal, ada penebalan dinding rahim, adenomyosis, itu rahimnya gelap sekali, yang tidak gelap hanya sebagian, kalau rahim normal harusnya tidak gelap seperti itu" (yang aku tangkap dari penjelasan dokter, tapi ya tetap tidak mudeng). Kira- kira gambar rahim normal dengan adenomyosis kaya gambar di bawah ini.


Setelah selesai di periksa, dokter menjelaskan lagi lewat penampang rahim yang ada di meja. "Jadi kenapa hadinya sakit, kaya di tekan gitu, karena darah haid itu tidak mengalir keluar semua, beberapa menempel ke dinding, dan ini sudah berlangsung lama, jadi makin lama-makin numpuk, akhirnya makin sakit, ketekan dan ukuran rahim makin besar. kalau miom kan benjolan, kalau ini jadi tumpukan darah haid yang tidak bisa keluar, makanya jadi menebal", kira-kira begitu penjelasan dokter. "Lalu, solusinya gimana dok?", tanyaku dan temanku. "Kalau saran saya solusinya operasi, karena kalau hanya konsumsi obat, itu hanya menghambat, bukan mengobati" kata dokternya. "Operasi? Di angkat rahimnya dok?, tanyaku. "Tidak, operasi buang bagian yang sakit saja (dijelasin lagi bagian mana yang nantinya di ambil). Bertanya lagi aku dan temanku memastikan operasinya bukan angkat rahim, karena solusi dari dokter sebelumnya adalah angkat rahim. "Ya tidak lah, kalau angkat rahim, kalau yang sudah tidak mau punya anak, katanya belum menikah, ya di operasi kaya SC, di buang bagian yang membuat sakit. Nanti sambil menunggu calonnya datang, menikah, punya anak nanti sakitnya hilang, karena pemicu adenomyosis itu darah haid, selama masih masa haid, jadi makanannya". Memastikan lagi, kalau beneran bukan angkat rahim. Setelah itu dokter menyarankan untuk berdiskusi dengan orang tua di rumah, karena belum berumah tangga, dan memang perwalian masih di bapak, jadi dokter menyarankan untuk mendiskusikan dengan orang tua di rumah dan diberikan resep untuk ambil vitamin selama masa menunggu hasil diskusi dengan orang tua. Selain diskusi dengan orang tua, pastinya kesiapanku yang nantinya harus masuk ruang operasi untuk di SC tpi bukan mengeluarkan anak, tapi membuang penyakit. Dokter memberi waktu diskusi lebih kurang 1 bulan untuk datang kembali (28 Desember 2024) kalau tidak salah, tapi ke RS yang lain yang tercover BPJS dari faskes ku yang kebeteluan dokter tersebut praktek juga di situ. Setelah itu kami keluar dengan perasaan lega pastinya, karena tidak se seram vonis dokter pertama, karena ternyata ada opsi lainnya. Alhamdulilah, Alloh memberikan berita baik meski tetap di sarankan untuk operasi membuang sakitnya biar tidak kambuh, mengangkat penyakit bukan angkat rahim.
Pulang dari RS hari itu hati sudah kembali lega, tinggal mempersiapkan hati untuk operasi. Mukaku katanya sudah tidak suram. cerita tentang operasi laparoskopi untuk menghilangkan adenomyosisku aku ceritakan di selanjutnya. Semoga yang kebetulan mengalami nasib yang sama denganku tidak berkecil hati, dan bisa menjadi penyemangat. Dan semoga alloh segera kirim jodoh buatku, jodoh terbaik menurutnya, menerima segala kurangku. Aamiin😇


#sekueladenomyosis, bagian 3 nanti bagian cerita operasi dan pasca operasi, semoga bisa menulis bagian 4 untuk pejuang garis dua setelah alloh pertemuakan jodoh yang tepat#




Komentar

Postingan populer dari blog ini

ADENOMYOSIS BAGIAN 1