Rabu, 03 Juli 2024 aku mencoba bersabar, mencoba menerima sebuah berita yang datangnya seperti kilat yang menyambar 😭. Berawal dari check up kesehatan bekas operasi FAM ku 2 tahun lalu yang berasa gatal selama beberapa minggu ini. Hari itu adalah control ke 4 untuk observasi, dan allhamdulilah sudah tidak berasa gatal karena memang aktivitas dua minggu ini tidak terlalu padat dan tidak terlalu berkeringat. Akhirnya curhat ke dokter bedah tentang sakit selama menstruasi yang sudah lama kualami, tapi beberapa tahun terakhir memang lumayan mengganggu aktivitas. Dan akhirnya sama dokter bedah di sarankan sekalian ke dokter OBGYN. Karena hari ini pas ada jadwal langsung dibuatkan janji temu langsung dengan dokter. Urusan bekas luka FAM selesai pukul 09.45, dokter OBGYN praktek mulai pukul 12.00. Sambil menunggu praktek aku yang di antar teman di sekolah yang sudah seperti kakak muter healing sambal cari makan. Urusan isi perut selesai dan kembali lagi ke RS untuk janji temu dokter.
Poliklinik OBGYN ada di lantai 5, gabung dengan Poli anak. Pertama masuk dan menunggu panggilan agak kikuk juga sih, karena baru pertama ke Poli OBGYN yang kebanyakan control kandungan. Saat menunggu panggilan, jujur agak worry hasil nya nanti bagaimana. Dan eh ing eng, tibalah giiranku masuk. Ditanya umur, status, dan keluhannya apa. Perasaan udah ditahan-tahan mau nangis, karena dokternya serasa nge judge tentang belum nikah di usia yang sudah tidak lagi muda. Dan di bilang kalah dengan pasien sebelumnya yang 18 tahun tapi sudah hamil. Masih aku bawa haha hihi, karena buatku menikah bukanlah sebuah lomba meski memang buat kalangan dokter dan orang di Indonesia usiaku katanya rawan, tapi balik lagi semua takdir alloh rencana Alloh adalah yang terbaik. Setelah itu aku diminta berbaring untuk di USG. Ini kali kedua buat USG setelah 2 tahun lalu USG mamae. Meski masih agak aneh buatku melakukan USG tapi USG kandungan tidak harus menanggalkan seluruh pakai tidak seperti USG Mamae (untung dokter USG dulu perempuan). Aku diperlihatkan kondisi uterusku yang kta dokter itu kurang baik. Ada Miom yang menyatu ked aging uterus, lebih tepatnya ADENOMYOSIS.


Ukuran rahimnya sudah berkembang 4x lipat karena kondisi itu. Hanya ada pilihan untuk kondisi itu yaitu menghentikan menstruasi. Menghentikan menstruasi artinya operasi pengangkatan Rahim. Tapi karena belum menikah pilihan keduanya adalah dengan suntik tiap bulan selama kurang lebih 6-9 bulan untuk menghentikan menstruasi yang biayanya sekali suntik tidak murah dan harus rutin juga tidak tercover BPJS. Itu pun hanya supaya si adenomyosis ini bias mengecil, tapi kecilnya juga tidak bisa balik ke kondisi normal. Masing-masing orang berbeda. Dan kondisi seperti ini nanti untuk hamil kemungkinannya kecil. Ah, rasanya hati ini terkoyak, tapi air mata coba aku tahan supaya tidak menetes disitu. Keluar ruang periksa rasanya lemas, tapi mencoba sabar, tegar, dan tenang padahal dalam hati hancur tidak karuan 😭😭. Sambal menunggu di luar temanku mencoba menenangkan dan mensupport. Dalam perjalanan pulang sebenarnya pikiran tidak karuan, hanya aku tidak ingin menampakannya ke orang lain.
Sesampainya di rumah, cerita ke mama kalua habis periksa USG kandungan terkait skit yang kualami saat haidh, tapi aku hanya cerita kalua ada miom di Rahim harus suntik setiap bulan selama kurang lebih 6-9 bulan buat mengecilkan tapi biaya cukup mahal dan tidak di cover BPJS tanpa cerita kalau itu sifatnya hanya menghentikan menstruasi yang hanya mengecilkan dan dampaknya kecil dan tidak cerita juga ke orang tua kalau pilihan terakhirnya adalah operasi pengangkatan Rahim. Mencoba biasa saja dan tabah di depan mama ketika menceritakan itu dan bilang ke mama beberapa pernah juga dan sembuh tidak hanya aku. Setelah itu masuk kamar dan cari info di google dan memang adenomyosis seperti itu. Akhirnya semua air mata aku tumpahkan di kamar, sambal berkata “ya Alloh, takdir apalagi yang kau berikan untukku? Ada hal indah apa yang Engkau siapkan untukku sampai engkau beri aku takdir seperti ini?”. Bukan takdir alloh yang mengecewakan tapi aku yang tidak aware dengan badanku , aku yang tidak menjaga apa yang sudah alloh kasih ke aku. Tapi aku berdoa semoga dalam takdirnya Alloh menuliskan kalau aku masih diberi kesempatan untuk menikah dan mempunyai keturunan meskipun kalimat dokter seperti itu. Karena sakit ini alloh yang buat, alloh juga yang menyembuhkan, dan tidak ada hal yang mengecewakan kalau kita sudah berserah ke DIA. Semoga Alloh masih gariskan takdir yang indah, Alloh jodohkan dengan seseorang yang hatinya di setting untuk menerima segala kekuranganku ini. Aamiin
Komentar
Posting Komentar